![]() |
| Pohon hayuara jadi saksi bisu lahir kampung pertama di Palas dan keturunan raja pendiri kampung diabadikan dirumah bagas godang atau tertua |
Padang Lawas - Desa Aek Hayuara atau Desa Martona yang berada dipuncak perbukitan Aek Nadengan merupakan desa tertua di Kecamatan Barumun . Dimasa pemerintahaan daerah tingkat ( Dati ) II Kabupaten Tapanuli Selatan ( Tapsel ) ketika itu .
Kini desa itu masukl dalam wilayah kerja pemerintahaan Kecamatan Ulu Barumun, Kabupaten Padang Lawas ( Palas ) Namun letak geograifisnya berada dikawasan yang berdekatan dengan Kecamatan Sosopan . Desa ini hanya dihuni sebanyak 26 orang dari 18 kepala keluarga ( KK) yang masih bertahan bermukim didesa yang sangat terisolir dan terpencil . Tatapi keraifan lokal warga menjungjung tinggi budaya kebersamaan yang kompak masih sangat kental dan menjadi tradisi secara turun temurun sejak dahulu kala sampai sekarang .
Desa Aek Hayuara yang dididirikan tahun 1850 lalu , memiliki historis sejarah sebagai kampung pertama di Kabupaten Padang Lawas ( Palas ) saat ini. Pasalnya , kampung atau desa tersebut yang letaknya paling penghujung diatas perbukitan sangat sulit untuk dikunjungi , karena akses jalan menuju desa hanya mengandalkan jalan setapak yang berada diatas lereng perbukitan , hanya dapat dilintasi pejalan kaki, sehingga banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa ada desa tersebut .
Kondisi wilayah desa Aek Hayuara yang saat ini dihuni hanya sekitar 18 kepala keluarga ( KK) tanpa alat penerangan lampu PLN , hanya ada lampu teplok dan sentir sebagai sumber penerangan masyarakat dimalam hari
Selain itu juga , sarana sekolah dipemukiman perkampungan bagi warga sekitarnya juga tidak ada . Ditambah lagi, tidak adanya sarana puskesmas pembantu ( Pustu ) untuk pelayanan kesehatan warga disana , sehingga suasana didesa itu serba kekuarangan . "
Desa Aek Hayuara ini sebagai desa pertama kali di Palas ini, kini hanya tinggal kenangan dan terlupakan serta luput dari perhatian pemerintah . Inilah kondisi desa sekarang , yang dulunya ramai penduduknya , kini berangsur- angsur telah meninggal desa , dan berpindah tempat kedasa lain didaerah sundol julu dan hasatan Julu, kata Rahmat Hasibuan dan Pinanyungan Hasibuan gelar Sutan Sinomba , yang mengaku keturunan raja yang mendirikan desa tersebut dimasa lalu .
Ditemui Go Sumut di Desa Aek Hayuara ,Kecamatan Ulu Barumun mengungkapkan takbir sejarah kampung pertama yang didirikan sejak tahun 1850 silam .Kini hanya tinggal kenangan dan catatan sejarah, karena luput dari perhatian pemerintah untuk tetap melestarikan kampung ini sebagai legenda sejarah lahir kampung pertama diaerah Kabupaten Palas
Rahmat menceritakan, sebahagian warga desa ini telah bertransmigrasi kedaerah lain dan berpindah kedesa yang padat penduduknya . Terjadinya eksodus berpindahnya warga , dikarenakan warga ingin anak- anaknya mendapat pendidikan yang layak sehingga terpaksa meninggalkan desa untuk selamanya . " Pohon Aek Hayuara sampai saat ini masih ada disini , merupakan saksi bisu yang menjadi kenangan sejarah lahirnya nama Desa Hayuara yang didirikan para pendahulu dan pemuka masyarakat pada masa itu , " beber Ramhat yang diamini Pinayungan Hasibuan .
Diungkap Rahmat dan Pinayungan mengkisahkan, kami tidak sanggup meninggalkan desa , sebagai tempat kelahiran kami semua , karena disinilah kami hidup dan berusaha , walupun hidup dengan seadanya , tetapi kami sangat menghargai desa kelahiran kami .
"Kondisi desa kami yang dikeliling jurang dan hutan diatas perbukitan perbatasan Bukit Barisan , sangat jarang didatangi pejabat pemerintah atau masyarakat , karena kondisi akses sarana jalannya yang harus dilalui menelusuri lereng perb ukitan dan jurang yang cukup dalam , sehingga cukup menakutkan bagi yang belum pernah kemari , " tutur mereka menggambar kondisi desa yang kini telah tertinggal dan terlupakan.
Lebih jaah Rahmat bersama Pinayungan yang didampingi Kepala Desa Aek Hayuara Rustam Hasibuan menambahkan, pohon Aek Hayuara serta terong Perak menjadi saksi bisu catataan sejarah lahirnya desa Aek Hayuara yang kini hanya tinggal kenangan dan terlupakan . " Kami sangat sedih dan iri dengan desa lainnya yang memiliki sarana pendidikan , puskesamas serta sarana penerangan lampu PLN . Tetapi sebaliknya kami semakin terkucil dan terisolir sebagai desa terpencil yang tidak mendapatkan perhatian apapun dari pemerintah .
Diakui kedua keturunan raja pendiri kampung Aek Hayuara, unntunglah adanya kucuran dana desa ( DD) yang dialokasikan kedesa ini, sehingga akses sarana jalan lintas mengalami perubahaan sedikit dan dapat dilalui dengan kendaraan sepada motor. Itulah salah satu pembangunan yang kami dapatkan , untuk lainya sama sekali tidak ada , sehingga kami merasa dianak tirikan dan terbuang dari perhatian pemerintah , " tandas Rahmat dan Pinayungan secara bersama
Kepala Desa Aek Hayuara Rustam Hasibuan mengatakan, dirinya bersama masyarakat yang sudah pindah ke Desa Sundol ,berencana untuj kembali kedesa, jika pemerintah memberikan perhatian sarana dan prasaran yang menjadi kebutuhan masyarakat " Anggaran dana desa terus dialokasikan untuk akses jalan kedesa agar tidak semakin terisolir," katanya sembari harapan masyarakat, pemerintah dapat membangun jembatan diatas sungai yang menjadi kendala paling berat bagi warga.
Menyahuti aspirasi warga dan pemerintah desa. Wabup Palas drg. H. Ahmad Zarnawi Pasaribu. C. HT.MM bwrjanji, akan mengunjungi desa Aek Hayuara dan memprioritas pembangunan sarana desa untuk diajukan di R. APBD tahun 2018 .
" Kita akan mempertahankan Desa Aek Hayuara sebagai sejarah lain desa peetama di Palas, tentu perlu skala prioritas agar masyarakat dapat kembali kedesa, sehingga desa itu dapat kembali seperti dulu yang dihuni masyarakat secara turun temurun, " timpal Wabup menyikapi aspirasi warga(Ibnu Nasution)


No comments:
Post a Comment